1 KEGAGALAN KONSTRUKSI
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
KEGAGALAN KONSTRUKSI
NAMA : RONY DONI MORON
NPM : 17-630-086
ANALISIS KEGAGALAN KONSTRUKSIDARI PERSPEKTIF
SOCIO
ABSTRAK
Salah satu penyebab utamakerentanan fisik dan lingkunganadalah kegiatan manusia dalammembangun lingkungan-binaannya, dan hal ini sangat erat terkaitdengan sektor konstruksi. Caramembangun yang salah, baik dari segi perencanaan dan perancangan maupun dari segipelaksanaan dan pengawasannya dapat menghasilkan infrastrukturyang rentan terhadap bencana,selain juga risiko degradasilingkungan. Hasil studi data statistikkegagalan, memperlihatkan bahwaPractitioners mempunyai sahamdan potensi yang lebih besar dariTheoreticians dalam menekanresiko kegagalan. Persentasi resiko terbesar datang dari Human Activities dan Human Attitude. Socio-Engineering berfokus pada atribut yangmelekat pada seseorang seperti ,sikap (attitude), keahlian (skill) ,nilai/norma yang diyakini (values),relasi sesama manusia, pengakuandan penghargaan (reward system),wewenang struktural (authoritystructure). Hasil penelitian ini dapatdijadikan suatu teori yang berfungsiuntuk menjelaskan, meramalkan,dan mengontrol suatu gejala.Penelitian ini menganalisis Kegagalan Konstruksi dariPerspektif Socio – Engineering System. Pengaruh Socio –Engineering System terhadapkegagalan kontruksi dan bangunansangat beresiko ( 66,7 %) dalamartinya perilaku manusia memilikiperanan yang cukup berarti dalamkegagalan konstruksi. Kegagalan konstruksi dilihat dari perspektif socio engineering system yang berpengaruh yaitu pada tahap perencanaan, dokumen perencanaan dan proses pengadaan. Pada tahap inifaktor yang dapat mengakibatkan kegagalan kontruksi, seperti persaingan yang tidak sehat,korupsi, kolusi, nepotisme, (KKN)dan penyuapan agarmemenangkan tender PengadaanBarang dan Jasa (90,00 % ),Terjadinya persekongkolan dengan Owner untuk mengatur harga penawaran diluar prosedurpengadaan(80,00 %), KeinginanOwner untuk meraih keuntunganyang tidak normal ( Fee Proyek ) dengan menekan imbalan jasa darikonsultan Perencana / Kontraktordiluar kontrak yang telah disepakati(76,7%).
BAB I
PENDAHULUAN
Salah satu penyebab utamakerentanan fisik dan lingkunganadalah kegiatan manusia dalammembangun lingkungan-binaannya, dan hal ini sangat erat terkaitdengan sektor konstruksi. Caramembangun yang salah, baik dari segi perencanaan dan perancangan maupun dari segipelaksanaan dan pengawasannya dapat menghasilkan infrastrukturyang rentan terhadap bencana,selain juga risiko degradasilingkungan. Untuk mendapatkanfaktor penyebab kegagalankonstruksi tidaklah mudah.Seringkali sumber dari kegagalanitu sendiri merupakan akumulasidari berbagai faktor. Oyfer (2002)menyatakan bahwa “Construction failures, including quality defectsmay stem from not only single butalso multiple sources”. SedangkanPranoto (2007) menyebutkanbahwa sumber kegagalankonstruksi seringkali dipengaruhi oleh faktor alam dan perilakumanusia. Faktor alam dicontohkan sebagai kegagalan yang terjadiakibat perubahan dinamik darialam seperti letusan gunungberapi, banjir, gelombang laut dangempa bumi. Perilaku manusiajuga berperan signifikan terhadapkegagalan konstruksi. Vickynason(2003) menyatakan bahwa 80%dari total projects risk inconstruction dimungkinkanpenyebabnya faktor manusia. Risetyang dilakukan Oyfer (2002)menyatakan “construction defects”di Amerika disebabkan oleh faktormanusia (54%), desain (17%),perawatan (15%), material (12%),dan hal tak terduga (2%).
Pada umumnya kasus padapekerjaan konstruksi didominasioleh penyimpangan berupapengaturan lelang, kekurangan volume pekerjaan, ketidak-sesuaian spesifikasi berupapengurangan kualitas pekerjaan, pemahalan harga atau mark up danketerlambatan penyelesaianpekerjaan. Hal ini merupakan penyimpangan pada pekerjaan konstruksi. Yang nantinya hal iniakan menimbulkan gejala lain, yangtampaknya meningkat menjadilebih dominan pada masa resesiekonomi dewasa ini. Gejala dimulai dari keinginan dari pihak yangterkait memperoleh short-term profit dengan menempuh jalur yang tidak normal danmenggantinya dengan kompetisi yang didasarkan pada besarnyaangka rupiah semata.
Dengan memahami hal tersebut, dapat dikembangkan kebijakan-kebijakan pro-aktif untuk membangun konstruksiIndonesia agar mampu berperanpositif dalam mengurangi risikokegagalan konstruksi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kegagalan Konstruksi
Kegagalan konstruksi merupakankegagalan yang bersifat teknis dannon teknis. Kegagalan ini dapatdisebabkan karena kegagalan pada proses pengadaan barang atau jasa,atau kegagalan saat prosespelaksanaan konstruksi. Kegagalan perkerjaan konstruksi adalahkeadaan hasil pekerjaan konstruksiyang tidak sesuai dengan spesifikasipekerjaan sebagaimana disepakatidalam kontrak kerja konstruksi baik sebagian maupun keseluruhansebagai akibat kesalahan pengguna jasa atau penyedia jasa. (PP.29/2000 pasal 31 tentangPenyelenggaran Jasa Konstruksi).
Untuk mendapatkan faktor penyebab kegagalan konstruksi tidaklah mudah. Seringkali sumberdari kegagalan itu sendirimerupakan akumulasi dari berbagaifaktor. Oyfer (2002) menyatakan“construction defects” di Amerika disebabkan oleh faktor manusia (54%), desain (17%), perawatan (15%), material (12%), dan hal takterduga (2%). Vickynason (2003)menyatakan bahwa 80% dari totalprojects risk in constructiondimungkinkan penyebabnya faktormanusia. Sementara itu, Carper(1989) menyatakan bahwa penyebab potensial untuk kegagalankonstruksi secara umum disebabkanoleh : site selection and site developments errors, programing deficiencies, construction errors, material deficiencies and operational errors
2.2. Masalah dan PenyelesaianKegagalan Proyek Konstruksi
Herry Ludiro Wahyono (2011),faktor yang mempengaruhi kegagalan proyek yaitu konstruksibiaya yang dialokasikan, kualitaspelaksanaan pekerjaan, serta waktupelaksanaan. Kegagalan konstruksipada bangunan gedung terjadi pada kegagalan : elemen strukturdengan rata-rata penyimpangansebesar 4,36% dari nilai kontrak, elemen atap 2,53%, pondasi 0,15%,utilitas 0,12% dan finishing
0,07%. Kesuksesan proyekkonstruksi tergantung dari peranpengawas. Dalam model : Pengawasinternal (Kontraktor) dan pengawaseksternal (Konsultan Pengawas)berpengaruh signifikan terhadapkualitas proyek, sehingga untukmemperkuat fungsi pengawas perlupemenuhan terhadap kode etikprofesi pengawas yang tertuang dalam Surat Keputusan Sertifikat Keahlian. Faktor internal Supervisi(Kontraktor) mempengaruhikualitas dan eksternal supervisi(Konsultan Pengawas), sedangkanfaktor kualitas sangat tergantungeksternal Supervisi.
Menurut Ervianto (2002),manajemen pengelolahan setiapproyek rekayasa sipil meliputi fungsi dasar manajemen, yaitu :
a) Perencanaan (Planning)
Setiap proyek konstruksi pasti selalu dimulai denganproses perencanaan agar prosesini berjalan dengan baik makaditentukan terlebih dahulu sasaran utamanya. Perencanaan dapat didefinisikan sebagai peramalan masa yang akandatang dan perumusankegiatan-kegiatan yang akandilakukan untuk mencapaitujuan yang ditetapkanberdasarkan peramalan tersebut. Bentuk perencanaan dapat berupa perencanaan prosedur,perencanaan metoda kerja,perencanaan standarpengukuran hasil, perencanaan anggaran biaya, perencanaan program (rencana kegiatan beserta jadwal).
b) Pengawasan (supervising)
Pengawasan dapatdidefinisikan sebagai interaksilangsung antara individu-individudalam organisasi untukmencapai kinerja dalam tujuan organisasi. Proses ini berlangsung secara berkelanjutan dari waktu ke waktu guna mendapatkankeyakinan bahwa pelaksanaankegiatan berjalan sesuai prosedur yang ditetapkan untuk hasil yang diinginkan.
c) Pelaksanaan (construction)
Dalam kenyataannya,kegiatan ini dilakukan oleh pihakpelaksana konstruksi dan pihakpemiliki proyek. Pengawasandilakukan oleh pelaksanaankonstruksi bertujuanmendapatkan hasil yang telahditetapkan oleh pemiliki proyek, sedangkan pengawasan olehpemiliki bertujuan memperolehkeyakinan bahwa apa yang akanditerimanya sesuai dengan apayang dikehendaki. Parameterhasil pelaksanaan kegiatandituangkan dalam spesifikasi.
Sanksi atau hukuman mengenaikegagalan konstruksi dapatditinjau dari Undang Undang RI No. 18 Tahun 1999 dalam pasal 43sebagai berikut:
1. Barang siapa yang melakukanperencanaan pekerjaankonstruksi yang tidakmemenuhi ketentuanketeknikan dan mengakibatkankegagalan pekerjaan konstruksiatau kegagalan bangunandikenai pidana paling lama 5(lima) tahun penjara atau dikenakan denda paling banyak 10% (sepuluh perseratus) dari nilai kontrak.
2. Barang siapa yang melakukan pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang bertentangan atau tidak sesuaidengan ketentuan keteknikanyang telah ditetapkan danmengakibatkan kegagalanpekerjaan konstruksi atau kegagalan bangunan dikenakanpidana paling lama 5 (lima)tahun penjara atau dikenakan denda paling banyak 10%(sepuluh per seratus) dari nilai kontrak.
3. Barang siapa yang melakukan pengawasan pelaksanaan pekerjaan konstruksi dengan sengajamemberi kesempatan kepadaorang lain yang melaksanakanpekerjaan konstruksi melakukan penyimpangan terhadap ketentuan keteknikan danmenyebabkan timbulnya kegagalan pekerjaan konstruksiatau kegagalan bangunandikenai pidana paling lama 5(lima) tahun penjara atau dikenakan denda paling banyak 10% (sepuluh per seratus) dari nilai kontrak.
2.1.Pengembangan Kuisioner
Kuisioner di ambil dari ilmutentang kegagalan strukturbangunan yang merupakankeadaan bangunan yang tidakberfungsi, baik secara keseluruhanmaupun sebagian dari segi teknis,manfaat, keselamatan dankesehatan kerja dan keselamatanumum, sebagai akibat kesalahanpenyedia jasa dan atau pengguna jasa setelah penyerahan akhirpekerjaan konstruksi. Kegagalanbangunan karena strukturnya gagalberfungsi dapat menimbulkankerugian harta benda, bahkan korban jiwa. Oleh karen itu perludiantisipasi secara cermatPenanggung jawab kegagalanbangunan dapat dikenakankepada institusi maupun orang perseorangan, yang melibatkan keempat unsur utama dalam
pembangunan yaitu :
1) menurut Undang-undang No.18 tahun 1999, pasal 26, ketigaunsur utama proyek yaitu: perencana, pengawas dan kontraktor (pembangun).
2) menurut pasal 27, jika disebabkan karena kesalahan pengguna jasa/bangunan dalampengelolaan dan menyebabkankerugian pihak lain, makapengguna jasa/bangunan wajibbertanggung-jawab dan dikenaiganti rugi.
Penyebab keruntuhan yang munkin terjadi berdasarkan data yang dikumpulkan pengamatan dilapangan, makaakibat beberapa hal sebagaiberikut:
a. Pemilihan lokasi yang beresiko
b. Ketentuan proyek yang tidakjelas
c. Kesalahan perencanaan
d. Kesalahan pelaksanaan
e. Material yang tidak bermutu
Dalam kegagalan proyekkonstruksi tidak lepas dari ketigaunsur utama di atas. Berikut faktor-faktor yang menyebabkankegagalan proyek konstruksidalam bidang perencanaan hingga pelaksanaan.
1. Penyebab kegagalan perencana umumnya disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
a. Tidak mengikuti TOR
b. Terjadi penyimpangan dariprosedur baku, manualatau peraturan yang berlaku,
c. Terjadi kesalahan dalampenulisan spesifikasi teknik,
d. Kesalahan atau kurangprofesionalnya perencanadalam menafsirkan data perencanaan dan dalam menghitung kekuatan rencana suatu komponenkonstruksi,
e. Perencanaan dilakukan tanpa dukungan datapenunjang perencanaanyang cukup dan akurat.
f. Terjadi kesalahan dalam pengambilan asumsi besaran rencana (misalnya beban rencana) dalamperencanaan,
g. Terjadi kesalahanperhitungan arithmatik,
h. Kesalahan gambar rencana
2. Penyebab kegagalanpengawas umumnyadisebabkan oleh :
a. Tidak melakukan prosedurpengawasan dengan benar,
b. Tidak mengikuti TOR,
c. Menyetujui proposaltahapan pembangunanyang tidak sesuai dengan spesifikasi,
d. Menyetujui proposaltahapan pembangunanyang tidak didukung olehmetode konstruksi yangbenar,
e. Menyetujui gambar rencana kerja yang tidak didukung perhitunganteknis.
3. Penyebab kegagalanpengawas umumnyadisebabkan oleh :
a. Tidak mengikuti spesifikasisesuai kontrak,
b. Salah mengartikanspesifikasi,
c. Tidak melaksanakanpengujian mutu dengan benar,
d. Tidak menggunakanmaterial yang benar,
e. Salah membuat metodekerja,
f. Salah membuat gambarkerja,
g. Merekomendasikanpenggunaan peralatan yang salah.
BAB III
METODOLOGI
Dengan penelitian ini makaakan dapat dibangun suatu teoriyang berfungsi untuk menjelaskan,meramalkan, dan mengontrol suatugejala. Penelitian ini menganalisis Kegagalan Konstruksi dariPerspektif Socio – Engineering System. Untuk memberikan kepastian, data yang dimilikiberdistribusi normal atau tidak,maka digunakan uji statistiknormalitas.Untuk itu perlu suatupembuktian. uji statistik normalitasyang digunakan dalam penelitian iniadalah Chi-Square. Salah satu metode dalam penelitian adalah metode deskriptif kuantitatif, dimana suatu metode dalammeneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatukondisi, suatu sytem pemikiran, ataupun kelas peristiwa pada masa sekarang tujuan utama dalam melakukan penelitian deskriptif ialah untukmenggambarkan situasi atau objekdalam fakta yang sebenarnya,secara sistematis dan karakteristik dari subjek dan objek tersebutditeliti secara akurat, tepat dansesuai kejadian yang sebenarnya.
![]() | |||||
![]() | |||||
Gambar 3.1 Diagram Alir MetodaPenelitian
BAB IV
HASIL PENELITIAN DANPEMBAHASAN
4.1. Analisis TingkatKerentanan
Dari data yang diteliti perlu dicermati mengenai fase tahapan – tahapan pada proyek yaitu Idea/Concept , TahapPerencanaan Konstruksi ,DokumenPerencanaan, Proses Pengadaan ,Pelaksanaan Konstruksi, Evaluasi Produk/ Pemanfaatan Produk, Operasi dan Pemeliharaan . Dari tahapan-tahapan tersebut dinilai banyak terkandung faktor-foktor penyebab kerentanan bangunan dilihat dariperspektif sosio engineeringsystem.
Tabel 4.1. Penilaian KegagalanKonstruksi dan bangunan dariperspektif socio – engineeringsystem
Resiko
|
20
|
66,7
|
TidakBeresiko
|
10
|
33,3
|
Total
|
30
|
100,0
|
Data di atas menunjukkan bahwa dari 30 responden, 20 ( 66,7 % ) responden menyatakan kegagalan konstruksi dari perspektif socio – engineering system termasuk kategori beresikoterhadap kegagalan konstruksi. Ini dapat diartikan prilaku / socio – engineering systemmenyumbang kontribusi yangnegative terhadap duniakonstruksi dan perilaku manusia/ pihak – pihak yang berperan memiliki peranan yang cukupberarti dalam kegagalanbangunan.
4.2. Model KuantitatifKegagalan Konstruksi
Analisis Korelasi Variabel Kuantitatif Model Kegagalan Konstruksi digunakan untuk menguji seberapa kuat hubungan tujuh variabel kuantitatif. Hasil Uji korelasi selengkapnya seperti disajikanpada Tabel berikut.
Tabel 4.1. Hubungan Sub FaseIdea/Concept Di Lihat DariPerspektif Socio EngineeringSystem Terhadap KegagalanKontruksi Dan Bangunan
Idea/Concept
|
KegagalanKontruksi DanBangunan
|
Jumlah
|
OR 95 %CI
|
P-Value
| ||||
Beresiko
|
TidakBeresiko
| |||||||
Jml
|
%
|
Jml
|
%
|
Jml
|
%
| |||
KurangBaik
|
13
|
65
|
6
|
60
|
19
|
63,3
|
1,238
|
0.789
|
Baik
|
7
|
35
|
4
|
40
|
11
|
36,7
| ||
Total
|
20
|
100
|
10
|
100
|
30
|
100
| ||
Tabel 4.2. Hubungan Sub FaseTahap Perencanaan Konstruksi dariPerspektif Socio Engineering System
Terhadap Kegagalan Kontruksi DanBangunan
TahapPerencanaan
Konstruksi
|
KegagalanKontruksi Dan
Bangunan
|
Jumlah
|
OR 95% CI
|
P- Value
| ||||
Berisiko
|
TdkBerisiko
| |||||||
Jml
|
%
|
Jml
|
%
|
Jml
|
%
| |||
KurangBaik
|
14
|
70
|
3
|
30
|
17
|
56,7
|
5.444
|
0,037
|
Baik
|
6
|
30
|
7
|
70
|
13
|
43,3
| ||
Total
|
20
|
100
|
10
|
100
|
30
|
100
| ||
Tabel 4.3. Hubungan Sub fasedokumen perencanaan dariPerspektif socio engineering systemterhadap kegagalan kontruksi danbangunan
Dokumen
Perecanaan
|
KegagalanKontruksi Dan
Bangunan
|
Jumlah
|
OR 95% CI
|
P-Value
| ||||
Berisiko
|
TdkBerisiko
| |||||||
Jml
|
%
|
Jml
|
%
|
Jml
|
%
| |||
KurangBaik
|
14
|
70
|
3
|
30
|
17
|
56,7
|
5,444
|
0,037
|
Baik
|
6
|
30
|
7
|
70
|
13
|
43,3
| ||
Total
|
20
|
100
|
10
|
100
|
30
|
100
| ||
Tabel 4.4. Hubungan Sub fase Proses Pengadaan dari kerentanan socio engineering system terhadap kegagalankontruksi dan bangunan
ProsesPengadaan
|
KegagalanKontruksi Dan
Bangunan
|
Jumlah
|
OR 95%CI
|
P-Value
| ||
Berisiko
|
TdkBerisiko
| |||||
Jml
|
%
|
Jml
|
%
|
Jml
|
%
| |||
KurangBaik
|
14
|
70
|
2
|
20
|
16
|
53,3
|
9,333
|
0,010
|
Baik
|
6
|
30
|
8
|
80
|
14
|
46,7
| ||
Total
|
20
|
100
|
10
|
100
|
30
|
100
|
Tabel 4.5. Hubungan Sub fasePelaksanaan Kontruksi dariPerspektif socio engineering systemterhadap kegagalan kontruksi danbangunan
Pelaksanaan
Kontruksi
|
KegagalanKontruksi Dan
Bangunan
|
Jumlah
|
OR 95% CI
|
P-Value
| ||||
Berisiko
|
TdkBerisiko
| |||||||
Jml
|
%
|
Jml
|
%
|
Jml
|
%
| |||
KurangBaik
|
13
|
65
|
3
|
30
|
16
|
53,3
|
4,333
|
0,070
|
Baik
|
7
|
35
|
7
|
70
|
14
|
46,7
| ||
Total
|
20
|
100
|
10
|
100
|
30
|
100
| ||
Tabel 4.6. Hubungan Sub faseEvaluasi Produk / PemanfaatanProduk dari Perspektif socioengineering
system terhadap kegagalankontruksi dan bangunan
EvaluasiProduk/ Pemanfaatan
Produk
|
KegagalanKontruksi Dan
Bangunan
|
Jumlah
|
OR 95% CI
|
P-Value
| ||||
Berisiko
|
TdkBerisiko
| |||||||
Jml
|
%
|
Jml
|
%
|
Jml
|
%
| |||
Kurang Baik
|
14
|
70
|
7
|
70
|
21
|
70
|
1,000
|
1,000
|
Baik
|
6
|
30
|
3
|
30
|
9
|
30
| ||
Total
|
20
|
100
|
10
|
100
|
30
|
100
| ||
Tabel 4.7. Hubungan Sub faseOperasi dan Pemeliharaan dariPerspektif socio engineering systemterhadap kegagalan kontruksi danbangunan
Operasidan
Pemeliharaan
|
KegagalanKontruksi Dan
Bangunan
|
Jumlah
|
OR 95 %CI
|
P-Value
| ||||
Berisiko
|
TdkBerisiko
| |||||||
Jml
|
%
|
Jml
|
%
|
Jml
|
%
| |||
KurangBaik
|
13
|
65
|
3
|
30
|
16
|
53,3
|
4,333
|
0,070
|
Baik
|
7
|
35
|
7
|
70
|
14
|
46,7
| ||
Total
|
20
|
100
|
10
|
100
|
30
|
100
| ||
Dari tabel hasil uji korelasi diatasterdapat tiga variabel yaitu :
Hasil uji statistik pada Sub fasePerencanaan Konstruksi diperolehnilai p = 0,037 (p-value < 0,05).Karena nilai P-value 0,037 > 0,05,maka dapat disimpulkan adahubungan yang bermakna antaratahap perencanaan dengankegagalan kontruksi dan bangunandan nilai OR = 5,444 artinya padaTahap Perencanaan Konstruksi dengan beberapa sumberpenyebab kerentanan dari sikap/prilaku yang kurang baik sebesar 5,4 kali beresiko terhadap kegagalankontruksi dan bangunan jikadibandingkan dengan sikap/prilaku dari tahap perencanaankonstruksi yang baik.
Pada Sub fase PerencanaanKonstruksi faktanya tidak bisadipungkiri fee atau komisi juga jualbeli proyek setiap pekerjaan yang ada di pemerintah harus menggunakan fee atau komisi. Baik anggaran APBN maupun anggaran APBD semua sama.Besarnya fee atau komisi dalamsetiap Proyek berbervariasi tergantung dari besarnya anggaran. Mulai dari 5% sampai dengan 20% bahkan ada yanglebih dari 40%. Kalau tidakmengikuti ataran ini tentu tidakakan mendapatkan pekerjaan. Didasari atau tidak, pengguna jasa telah mengambil resiko. Pengguna jasa turut memegangsaham dalam kumulasi resiko.
Hasil uji statistik pada Sub fasedokumen perencanaan diperolehnilai p = 0,037 (p-value < 0,05).Dengan demikian dapatdisimpulkan ada hubungan yangbermakna antara dokumen perecanaan dengan kegagalankontruksi dan bangunan dan nilaiOR = 5,444 artinya dokumenperecanaan yang kurang baiksebesar 5,4 kali berisiko terhadapkegagalan kontruksi danbangunan yang berisiko jikadibandingkan dengan dokumenperecanaan baik.
Pada Sub fase dokumenperencanaan faktanya dapat dilihatkerentanan socio-engineering system terhadap kegagalan bangunan yang timbul dari dokumen perencanaan seperti “Konsultan Perencana men subkontrakan pekerjaanPerencanaannya kepada pekerjayang tidak profesional” sebesar 73,30%. Keadaan ini diperburuk oleh kepincangan pengaturan hubungan primary consultant dansecondary consultant, ketidakseimbangan antarapembagian resiko dan imbalan,antara hak dan tanggung jawab.Maka diperlukan kebijaksanaan segi profesionalisme konsultan.Pada prakteknya main consultant mengadakan kerja sama kepada profesionalisme semu yangpenuh gamling dengan tujuandapat menekan imbalan jasa
Hasil uji statistik pada Subfase Proses Pengadaan diperoleh nilai p = 0,010 (p-value < 0,05).Dengan demikian hal ini dapatdiartikan ada hubungan yangbermakna antara prosespengadaan dengan kegagalan kontruksi dan bangunan dan nilai OR = 9,333 artinya pada sub fase proses pengadaan dengan beberapa sumber penyebab kerentanan dari sikap/ prilaku yang kurang baik sebesar 9,3 kaliberesiko terhadap kegagalan kontruksi dan bangunan jikadibandingkan dengan sikap/ prilakudari proses pengadaan yang baik.
Pada Sub fase Proses Pengadaan hal ini dapat diartikan bahwa dalam sub fase pada proses pengadaan banyak terdapat indikasi – indikasi yang mengakibatkan kegagalan kontruksi dan bangunan. Banyakcontoh kasus yang terjadi padaproyek konstruksi yang dapatmemperkuat hasil dari analisa ini, salah satunya adalah persaingan yang tidak sehat ,korupsi, kolusi, nepotisme, (KKN) kecurangan dan penyuapan agar memenangkan tender Pengadaan Barang dan Jasa.Diantaranya dengan menggunakancara – cara seperti mengondisikanpeserta lelang “ digugurkan” padatahap evaluasi administrasi,membuat lelang dengan sistemarisan ( bergilir ), mengondisikanpeserta lelang yang hanya diikutioleh beberapa penyedia jasa sajaserta indikasi lainnya dalampersekongkolan dalam prosespengadaan. Tentunya hal inimerupakan penyimpangan yangdikategorikan perbuatan melakukan praktik-praktik monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat yang nantinya akan menyebabkan kualitas pembangunan buruk, salah satunya dapat berdampak padakerentanan bangunan sehinggamemunculkan resiko korban. Selainitu juga berdampak terhadap ekonomi, lingkungan, kesehatan dan keselamatan manusia, dampak pada inovasi, erosi budaya, menurunnya tingkat kepercayaan kepada pemerintah, kerugian bagiperusahaan yang jujur, sertaancaman serius bagi pekembanganekonomi.
BAB V
PENUTUP
5.1. kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Ø Kerentanan dari socio engineering system sangat berpengaruh terhadap kegagalankontruksi dan bangunan sangat beresiko sebesar ( 66,7 %) dalam arti kata perilaku manusia / pihak – pihak yang berperan memiliki peranan yang cukup berarti dalam kegagalankonstruksi dan bangunan.
Ø Kegagalan konstruksi dilihat dari persfektif socio engineering system tahapan yangberpengaruh yaitu padatahap perencanaan , dokumen perencanaan danproses pengadaan. Sumberpenyebab kegagalankontruksi dari perspektif Socio – EngineeringSystem dinilai yang sangat beresiko yakni persaingan yang tidak sehat ,korupsi, kolusi, nepotisme, (KKN) dan penyuapan agar memenangkan tender Pengadaan Barang dan Jasa dinilai ( 90,00% ),Terjadinya persekongkolan dengan Owner untukmengatur harga penawarandiluar prosedur pengadaan (80,00 %), Keinginan Owner untuk meraihkeuntungan yang tidaknormal ( Fee Proyek )dengan menekan imbalan jasa dari konsultan Perencana / Kontraktordiluar kontrak yang telahdisepakati (76,7%)
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Carper, Kenneth L. ed.1989. ForensicEngineering. Elsevier SciencePublishers. New York.
Cartlide dan Mehrtens. 1982.Practical Cost Planning A Guide for surveyors and architects.
Hutchinson & Co (Publisher) Ltd.London.
Chapman,C. 1997. Project RiskAnalysis and Management – PRAMthe Generic
Cooper, D. dan Chapman, C. 1993.Risk Analysis For Large Project. FirstEdition. Cooper, D. Grey, S.Raymond,G. dan Walker,P. 2005.Project Risk Management
Djojosoedarso, Soeisno. 2003.Prinsip-prinsip Manajemen ResikoAsuransi. Edisi Pertama.
Ervianto, Wulfram. 2009.Manajemen Proyek Konstruksi. Andi.Yogyakarta.
Gray,C.F dan Larson,E.W. 2000.Project Management. First Edition.Irwin Mc Graw-Hill, Boston.Guidelines. John Wiley & Sons Ltd.,England.
Guilford,J.P., B. Fruchter (1981),Fundamental Statistics InPsychology And Education, Tokyo:McGraw-
HillKogakusha, Ltd.
Hartanto, Agnes Olivia (2006) Modelpengaruh faktor laten terhadapperilaku pekerja pada cacatkonstruksi.
Master thesis, Petra ChristianUniversity
John Wiley & Sons, Ltd. 2008, TheAtrium, Southern Gate, Chichester,PO19 8SQ, England (“Wiley”)Kerlinger, F. N dan Lee, H. B .2000.Foundation of Behavioral Research(Fourth Edition), USA ; Holt,
Reinnar & Winston. Inc
Kerzner Harold, 2001. ProjectManagement: A System toPlanning, Scheduling andControlling, (7 th
Edition , John Wiley & Sons), hal.3.
Oyfer. 2002. Multiple SourcesConstruction Failures and Defects
PMI ( Project Managemen Institute,Inc ). 2004 . A Guide To The ProjectManagemen Body Of Knowledge
( PMBOK), 3 rd edition, NewtownSquare, Pennsylvania, USA.
Pranoto. 1997. Faktor kegagalankonstruksi. dalam Kurniawan, Y.T.,2012. Simulasi 1-D Banjir Akibat
Keruntuhan Bendungan Alam(Studi Kasus Bencana BanjirBandang di Sungai KaliputihKabupaten
Jember tahun 2006). Thesis.Yogyakarta: Universitas GadjahMada
Process . International Journal ofProject Magement, Vol.15. No. 5.
Ramli, Samsul. 2013. Bacaan WajibPara Praktisi PengadaanBarang/Jasa Pemerintah. Jakarta :Visimedia. Republik Indonesia.1999. Undang – undang Nomor 18Tahun 1999 tentang JasaKonstruksi. Sekretariat
Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 1999. Undang –undang Nomor 5 Tahun 1999tentang Larangan Praktek Monopolidan
Persaingan Usaha Tidak Sehat.Sekretariat Negara. Jakarta
Republik Indonesia. 1999. Undang – undang Tindak Pidana Korupsi Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak PidanaKorupsi.Sekretariat Negara.Jakarta.
Republik Indonesia. 1999. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009tentang PerlindunganLingkungan Hidup, danPelaksanaannya. SekretariatNegara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2004. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004tentang perbendaharaan negara.Sekretariat
Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2010.Peraturan Presiden Nomor 54Tahun 2010 tentang PengadaanBarang / Jasa
Pemerintah. Sekretariat KabinetRI. Jakarta.
Republik Indonesia. 2011. PeraturanPresiden Nomor 35 Tahun 2011tentang Perubahan atas PeraturanPresiden Nomor 54 Tahun 2010tentang Pengadaan Barang/JasaPemerintah. Sekretariat Kabinet RI. Jakarta.
Republik Indonesia. 2012. PeraturanPemerintah Nomor 27 Tahun 2012tentang Izin Lingkungan.
Republik Indonesia. 2013. KeppresNo. 80/2003 Tentang PedomanPelaksanaan PengadaanBarang/Jasa
Pemerintah. Sekretariat KabinetRI. Jakarta.
Shahab, Hamid. 1996, LangkahMemperkecil Risiko Dalam Pembangunan, Cetakan Pertama,Penerbit
Djambatan, Jakarta.
Soeharto. 1999.Manajemen Proyek1. Erlangga. Jakarta. Soeharto.2001. Manajemen Proyek2.Erlangga.
Jakarta.
Sunarti, E. 2009. Analisis Kerentanan Sosial EkonomiPenduduk dan Wilayah untuk Analisis Resiko Bencana. Makalah disampaikan sebagai bahan Penyusunan Rencana Nasional PenanggulanganBencana Indonesia 2009-2013.
Susanto Hendra & Makmur Hediana.2013. Auditing Proyek-proyekKonstruksi. Yogyakarta: Andi Offset. Suswinarno. 2013. MengantisipasiRisiko dalam PengadaanBarang/Jasa Pemerintah. Jakarta:Visimedia Suwandi. 2010. KajianManajemen Resiko pada Proyekdengan Sistem Kontrak Lump Sumdan Sistem
Kontrak Unit Proce (Studi Kasus :Proyek Jalan dan Jembatan,Gedung, Bangunan Air). TesisProgram
Pascasarjana Magister TeknikSipil Universitas Diponegoro.Semarang.
Tumilar. 2006. Latar belakang dan Kriteria dalam Menentukan Tolok Ukur Kegagalan
Bangunan.HAKI.Jakarta.
Vickynasyon, 2002, Total ProjectRisk in Construction. New York.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya


Komentar
Posting Komentar